Di Penghujung Tahun

kembang api

Aku teramat payah dalam mengingat sesuatu hal. Sembari menilik kembali sosial mediaku dan memutar video-foto yang berserakan dalam folder galeri handphone, aku kembali mengingat beberapa hal. Tentang menemukan pekerjaan baru, tentang mencoba mendaki gunung, belajar berkuda, menyandang gelar Sarjana Sastra (pada akhirnya), tentang seseorang yang ingin sekali aku bunuh dalam ingatan, juga tentang keputusanku untuk berpindah dan hidup sendiri. Aku menggantungkan ingatan pada langit-langit kamar, sembari merebahkan punggungku kutatap mereka satu per satu.

Aku menemukan diriku berdiri pada banyak tempat, keramaian yang berbeda dari biasanya. Aku mulai mengingat hari pertamaku di tempat kerja yang baru. Aku meremas tanganku kuat, bukan karena gugup tapi seringkali aku begitu takut mengambil keputusan yang salah. Berpindah bukan hal yang buruk, pikirku, dan aku akan baik-baik saja. Sepuluh bulan sampai dengan hari ini aku menuliskannya, aku bahagia.

Senyum yang sama terburat saat aku memaksakan diriku bangun dalam suhu yang begitu dingin untuk menantikan fajar datang. Aku tak akan pernah bangun sepagi ini di Jakarta apalagi hanya untuk melihat matahari yang tak tau terbitnya dari arah mana. Matahari tak pernah setelanjang ini, aku menemukan diriku berdiri di puncak tertinggi sambil memegangi kedua pipiku bahwa hal seindah ini bukan sekedar dalam mimpi.

Tanpa kusadari napasku terhenti saat aku membayangkan pengalaman magisku dengan semesta. Entah karena semesta jugalah yang membawaku padamu atau yang menjauhkan kita satu sama lain. Aku mengulur napasku perlahan, seperti lesu karena tahun ini aku masih saja berkutat dengan masalah yang sama : membunuh ingatan. Aku seorang yang kerap berpindah-pindah tempat namun entah kenapa hati ini selalu menetap. Kemudian aku berharap akan berhasil dengan cara yang lain, alih-alih membencimu aku kini sedang mendoakan kebahagiaanmu.

Tak ada yang istimewa dipenghujung tahun ini, tak ada liburan di tempat bersalju atau sekedar bermain pasir dipantai. Aku sedang sibuk menata ulang tempat tinggal baru, menyusun kembali jadwal harian atau seperti malam ini menyempatkan diriku menyusun memori yang terjadi tahun ini. Tak banyak yang kualami, tak sedikit pula hati yang ku sakiti. Aku harap mereka sanggup mendengar “maaf” yang kubisikkan dari sudut ruang kecil ini.

Aku menemukan diriku berdiri menatap sunyi tapi bukan sepi, ngilu tapi bukan rindu. Belum sampai penghujung tahun, aku sudah mendengar riuh kembang api dalam dadaku. Malam ini sedang ada perayaan antara aku dan masa lalu.

Selamat berbahagia untukku.

Advertisements

Saat Kau Tidur Pulas

Jika aku diam seringkali kau kira aku sedang sakit gigi, atau saat aku tidur lebih dulu dan tak sempat menyambutmu; kau kemudian hanya sibuk dengan telepon genggammu tanpa menanyai hariku. Hari ini dipasar aku sulit menemukan ikan dori pesananmu hingga kemudian aku kembali ke rumah dan merasa gagal, juga kakiku sekarang mulai payah berjalan karena nyeri yang terlampau sering dan benar, membersihkan dan menunggui rumah adalah kegiatan yang sangat membosankan. Namun yang membuatku bahagia adalah saat aku terbangun tengah malam dan menyelinap sebentar ke kamarmu sambil melihatmu tertidur pulas.

Aku semakin tua dan rupanya kau semakin sibuk. Semoga saat kita ada waktu untuk ngobrol tak melulu soal perdebatan, kenapa begini kenapa begitu. Aku sedang berusaha merelakan diriku untuk diam akhir-akhir ini. Kau kerap menyebut kata “privasi” saat kau enggan bercerita tentang sesuatu. Maaf, aku hanya terbiasa menanyakan hari-harimu sama seperti saat kau masuk tahun ajaran baru disekolah dulu. Aku tahu dunia dewasa itu rumit dan kau harus kuat. Untuk menjadikanmu dewasa, aku rela menjadi tua dan untuk membuatmu bahagia, aku satu-satunya orang yang rela menjadi apa saja.

“Tidur yang nyenyak, Anakku” bisikku sambil membenahi selimutmu.

IT’S TIME TO FIND A NEW CHEESE!

page18-1006-full

“Hem, Look!We keep doing the same things over and over and wonder why things dont get better. It’s time to move on!It’s time to find a new cheese!” – Haw

4 years ago, one of my lecturer showed me an interesting short movie called  “Who Moved My Cheese?”, it’s adapted from popular book by Spencer Johnson. I can see both Hem and Haw as a part of my personality. Hem, someone who afraid of changes and waiting for a miracle to change everything and ignoring the reality of the situation. In the other hand, Haw, someone who willing to learn from mistakes , laughed at himself, and was quick to let go of old behaviours and aimed to be better.

In the story, Hem and Haw are too comfortable with their lives and always follow the same path to meet with their cheese, representing life’s happiness/ success. They never realized that gradually cheese is moving and finally dissapeared. It is hard to accept the fact that there’s no more cheese left, in the next day they are still following the same path but there’s no result for it. Hem becomes depressed and Haw is looking for another way to find a new cheese. Somehow, we can’t control 100% of our lives to avoid changes, as a philoshoper Heraclitus says “nothing endures but changes”. Change happens and it is inevitable.

Following same pattern over the years , made me realized that I have failed on certains aspects in my life. Hem within me, refused new methods or even refused to learn from past mistakes. I trapped with the old bad habits and gradually it stressed me. Moreover, Haw cry out and asking for changes. My life might not extremely change in the past few years but I can see my personality has develop to be better and I can feel changing of my goals, point of views and decisions. Finding a new cheese itself, for me as finding a balance between spirituality and physical needs.

When life is not only about recognition and achievement but it’s about peace and happy minds. Here is what I learn when I’m finding my cheese:

  1. I find someone who truly support me. People come and go, but there are meant to be stay,they are my family. In order to find a balance between life and spirituality, I avoided many things which jeopardize my goals . Some of them like that idea and some maybe not but people who support you will help you along the way.
  1. I hurt but I don’t stop walking. Since this is a lifetime journey, I know I will meet many people with different characters, they may hurt me along the way by their attitudes or words. Even you were born as twins it wouldnt guarantee you will always agree on something. Instead of focusing on the difference, I learn how to be positive each day and be kind to others.
  1. I learn to forgive. The most important things, I learn to forgive myself, when I am down. I learn to forgive myself when I fall into same mistakes over and over, or even I’m doing stupid things. I learn to forgive myself, when I feel afraid sometimes. Also, I learn to forgive people surrounds me who intentionally or unintentionally hurt me and push me away from my goals.

From my imperfection, I learnt many things on life journey to find my cheese. There are many changes and efforts only to make an adjustment. I went with the choice that scared me the most, because that’s the one that is going to help me grow. And now, it’s your decision to be Hem or Haw, to be scared or to be better person. You choose 🙂

Berpergian

Kau tak akan pernah siap untuk berpergian saat kau masih membawa sejumlah kebiasaan lama dari masa lalu : menghirup udara yang kau kenali, melihatnya terpejam dengan lengan yang masih melingkar dipundakmu atau menyimak sebuah lagu kesedihan dengan ribuan kemungkinan. Kemudian ingatan menguap, masa lalu seperti embun yang diam-diam hilang saat siang. Kau sedang bersiap untuk pergi, namun kau lihat ia pulas menantimu kembali.

Kau kunci rapat sudut-sudut matamu, membekali dirimu dengan banyak doa dan harapan. Pada jalan depan rumahnya, dadamu bergetar, seperti seorang yang tak ingin berpergian- kau redam sedu sedan. Cuaca sedang bagus diluar, ia masih ingin tidur dan kau sudah harus berjalan. Pukul tujuh pagi saat matahari hendak tinggi, kau sedang mengadakan perpisahan dengan sebuah bayangan.

 

Jakarta, 2018

Lenny and The Search For Lost Time

hector-video-1

“There’s a moment when your life seems to stretch out before you like an endless roll of fabric, from which you’ll be able to make all sorts of outfits. And then comes the moment when you realize that the roll does have an end, and that you’ll have to do some careful calculations if you’re going to manage to get even one more set of clothes out of it”

-François Lelord

Sedikit menggelitik memang membayangkan diriku menjadi salah satu tokoh dalam novel Hector and The Search For Lost Time karya François Lelord. Tokoh wanita itu bernama Marie-Agnes, diusianya yang menjelang 40 tahun ia menginginkan punya perasaan seperti saat ia berusia 20 tahun. Perasaan dimana kehidupan tak akan pernah berakhir, perasaan bahwa ia benar-benar menikmati hidup tanpa persoalan dan ia sanggup memilih siapapun teman atau kekasih yang ia inginkan. Namun nyatanya, waktu terus berjalan, dengan usianya sekarang ini ia berharap bahwa waktu akan berjalan sedikit lebih lambat karena ia sedang berpikir apa yang hendak ia lakukan dengan sisa usianya.

Mungkin aku menyadari sesuatu hal sedikit lebih cepat ketimbang orang lain. Di usiaku yang 25 tahun ini aku mulai menyadari bahwa sedikit demi sedikit kehidupanku mulai berubah. Bukan lagi seorang remaja yang menggemari berpergian kesana-kemari tanpa alasan, bukan lagi seorang yang gemar menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tak penting. Selain menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat, aku juga berpikir bahwa semakin bertambah usia semakin bertambah pula tanggung jawab dalam kehidupan. Mengasyikan memang memulai hidup sebagai orang dewasa, kehidupan dengan banyak perencanaan dan prioritas.

Perihal Hector, seorang psikiater dan kisah-kisah pasiennya membuat novel ini semakin menarik namun kaya dengan makna. Jadi teringat dulu ketika aku masih kecil, aku ingin sekali waktu cepat berlalu dan menjadi orang dewasa. Memikirkan bahwa dengan menjadi orang dewasa aku bisa mendapatkan apa yang aku mau dengan mudah tanpa proses yang berbelat-belit dari orang tua. Namun seraya waktu itu tiba, ketakutan semakin nyata, aku mulai takut ketika aku terbangun di hari Senin kemudian menyadari bahwa hari ini sudah hari Jumat. Ketakutan bahwa aku tak memanfaatkan waktuku sebaik mungkin dan masih terjebak dengan kesalahan-kesalahan yang sama.

Ini masih awal tahun 2018, mungkin saja aku masih punya kesempatan yang baru untuk memulai sesuatu dengan sebaik mungkin. Perihal waktu yang berlari memang tak bisa ku ubah, namun setidaknya aku sanggup membenahi diri mulai dari skala prioritasku tahun ini. Aku sedang berpikir untuk mulai menambah daftar bacaanku tahun ini, menghabiskan waktu dengan orang tuaku lebih sering, mengurangi kesibukan pekerjaan dan menggantinya dengan hal-hal spritual yang lebih membuatku bahagia. Lalu hal yang lain? Nanti dulu ya, aku sedang menikmati waktuku bersama dengan mereka 🙂