Saat Kau Tidur Pulas

Jika aku diam seringkali kau kira aku sedang sakit gigi, atau saat aku tidur lebih dulu dan tak sempat menyambutmu; kau kemudian hanya sibuk dengan telepon genggammu tanpa menanyai hariku. Hari ini dipasar aku sulit menemukan ikan dori pesananmu hingga kemudian aku kembali ke rumah dan merasa gagal, juga kakiku sekarang mulai payah berjalan karena nyeri yang terlampau sering dan benar, membersihkan dan menunggui rumah adalah kegiatan yang sangat membosankan. Namun yang membuatku bahagia adalah saat aku terbangun tengah malam dan menyelinap sebentar ke kamarmu sambil melihatmu tertidur pulas.

Aku semakin tua dan rupanya kau semakin sibuk. Semoga saat kita ada waktu untuk ngobrol tak melulu soal perdebatan, kenapa begini kenapa begitu. Aku sedang berusaha merelakan diriku untuk diam akhir-akhir ini. Kau kerap menyebut kata “privasi” saat kau enggan bercerita tentang sesuatu. Maaf, aku hanya terbiasa menanyakan hari-harimu sama seperti saat kau masuk tahun ajaran baru disekolah dulu. Aku tahu dunia dewasa itu rumit dan kau harus kuat. Untuk menjadikanmu dewasa, aku rela menjadi tua dan untuk membuatmu bahagia, aku satu-satunya orang yang rela menjadi apa saja.

“Tidur yang nyenyak, Anakku” bisikku sambil membenahi selimutmu.

Advertisements

Berpergian

Kau tak akan pernah siap untuk berpergian saat kau masih membawa sejumlah kebiasaan lama dari masa lalu : menghirup udara yang kau kenali, melihatnya terpejam dengan lengan yang masih melingkar dipundakmu atau menyimak sebuah lagu kesedihan dengan ribuan kemungkinan. Kemudian ingatan menguap, masa lalu seperti embun yang diam-diam hilang saat siang. Kau sedang bersiap untuk pergi, namun kau lihat ia pulas menantimu kembali.

Kau kunci rapat sudut-sudut matamu, membekali dirimu dengan banyak doa dan harapan. Pada jalan depan rumahnya, dadamu bergetar, seperti seorang yang tak ingin berpergian- kau redam sedu sedan. Cuaca sedang bagus diluar, ia masih ingin tidur dan kau sudah harus berjalan. Pukul tujuh pagi saat matahari hendak tinggi, kau sedang mengadakan perpisahan dengan sebuah bayangan.

 

Jakarta, 2018

Lenny and The Search For Lost Time

hector-video-1

“There’s a moment when your life seems to stretch out before you like an endless roll of fabric, from which you’ll be able to make all sorts of outfits. And then comes the moment when you realize that the roll does have an end, and that you’ll have to do some careful calculations if you’re going to manage to get even one more set of clothes out of it”

-François Lelord

Sedikit menggelitik memang membayangkan diriku menjadi salah satu tokoh dalam novel Hector and The Search For Lost Time karya François Lelord. Tokoh wanita itu bernama Marie-Agnes, diusianya yang menjelang 40 tahun ia menginginkan punya perasaan seperti saat ia berusia 20 tahun. Perasaan dimana kehidupan tak akan pernah berakhir, perasaan bahwa ia benar-benar menikmati hidup tanpa persoalan dan ia sanggup memilih siapapun teman atau kekasih yang ia inginkan. Namun nyatanya, waktu terus berjalan, dengan usianya sekarang ini ia berharap bahwa waktu akan berjalan sedikit lebih lambat karena ia sedang berpikir apa yang hendak ia lakukan dengan sisa usianya.

Mungkin aku menyadari sesuatu hal sedikit lebih cepat ketimbang orang lain. Di usiaku yang 25 tahun ini aku mulai menyadari bahwa sedikit demi sedikit kehidupanku mulai berubah. Bukan lagi seorang remaja yang menggemari berpergian kesana-kemari tanpa alasan, bukan lagi seorang yang gemar menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tak penting. Selain menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat, aku juga berpikir bahwa semakin bertambah usia semakin bertambah pula tanggung jawab dalam kehidupan. Mengasyikan memang memulai hidup sebagai orang dewasa, kehidupan dengan banyak perencanaan dan prioritas.

Perihal Hector, seorang psikiater dan kisah-kisah pasiennya membuat novel ini semakin menarik namun kaya dengan makna. Jadi teringat dulu ketika aku masih kecil, aku ingin sekali waktu cepat berlalu dan menjadi orang dewasa. Memikirkan bahwa dengan menjadi orang dewasa aku bisa mendapatkan apa yang aku mau dengan mudah tanpa proses yang berbelat-belit dari orang tua. Namun seraya waktu itu tiba, ketakutan semakin nyata, aku mulai takut ketika aku terbangun di hari Senin kemudian menyadari bahwa hari ini sudah hari Jumat. Ketakutan bahwa aku tak memanfaatkan waktuku sebaik mungkin dan masih terjebak dengan kesalahan-kesalahan yang sama.

Ini masih awal tahun 2018, mungkin saja aku masih punya kesempatan yang baru untuk memulai sesuatu dengan sebaik mungkin. Perihal waktu yang berlari memang tak bisa ku ubah, namun setidaknya aku sanggup membenahi diri mulai dari skala prioritasku tahun ini. Aku sedang berpikir untuk mulai menambah daftar bacaanku tahun ini, menghabiskan waktu dengan orang tuaku lebih sering, mengurangi kesibukan pekerjaan dan menggantinya dengan hal-hal spritual yang lebih membuatku bahagia. Lalu hal yang lain? Nanti dulu ya, aku sedang menikmati waktuku bersama dengan mereka 🙂

 

Pekerja

Ia yang katanya hidup tapi tak benar hidup,

yang katanya punya impian tapi bertahan

demi upah harian.

Keluhnya sekujur tubuh nyeri,

tiap malam ia dipukuli mimpi.

Kapan hidup punya jalan yang pasti

selain dari menanti?

 

Tiap pagi, ia berjumpa pada bis kota,

toko-toko, pusat keramaian dan

perkantoran.

Tak ada yang hilang dari matanya:

cita, doa dan ketabahan

Bilamana ia bisa menjadi tubuh yang setia

bagi takdir seorang pekerja?

 

Jakarta, 2018

Sudah Sampaikah Suratku?

o-WOMAN-WRITING-LETTER-facebook

Suratku yang lalu tak sampai, bahkan belum selesai kutulis tapi sudah hilang. Puisi-puisiku hanya bergeming di dinding seolah hanya aku dan Tuhan yang tahu. Sudah setahun aku mencoba mengeja kata s-a-y-a-n-g namun masih saja lidahku kelu, aku mencoba mengeja kata yang lain – Sunshine, Baby maupun Darling tapi tetap saja aku ingin belajar bagaimana mengeja s-a-y-a-n-g yang baik.

Aku pun sudah lupa bagaimana cara mengucap rindu. Rindu seperti sepi yang menempel pada kaca-kaca jendela rumahmu, yang menanti kepulanganmu namun tetap saja kehilanganmu. Rindu seperti ampas kopi yang mengental dicangkirku, yang sengaja aku tiriskan hingga malam. Dalam percakapan kita pun, rindu duduk pada kursi nomor dua sambil menunggu gilirannya bicara yang tak pernah tiba. Pelan-pelan ia terabaikan, perlahan rindu terlupakan.

Aku sedang menuliskan surat untukmu sekarang, dengan kata-kata yang seadanya; kata-kata yang tersisa. Menjawab suratmu kemarin:

” Aku baik-baik saja. Lalu bagaimana kabarmu?”