Sudah Sampaikah Suratku?

o-WOMAN-WRITING-LETTER-facebook

Suratku yang lalu tak sampai, bahkan belum selesai kutulis tapi sudah hilang. Puisi-puisiku hanya bergeming di dinding seolah hanya aku dan Tuhan yang tahu. Sudah setahun aku mencoba mengeja kata s-a-y-a-n-g namun masih saja lidahku kelu, aku mencoba mengeja kata yang lain – Sunshine, Baby maupun Darling tapi tetap saja aku ingin belajar bagaimana mengeja s-a-y-a-n-g yang baik.

Aku pun sudah lupa bagaimana cara mengucap rindu. Rindu seperti sepi yang menempel pada kaca-kaca jendela rumahmu, yang menanti kepulanganmu namun tetap saja kehilanganmu. Rindu seperti ampas kopi yang mengental dicangkirku, yang sengaja aku tiriskan hingga malam. Dalam percakapan kita pun, rindu duduk pada kursi nomor dua sambil menunggu gilirannya bicara yang tak pernah tiba. Pelan-pelan ia terabaikan, perlahan rindu terlupakan.

Aku sedang menuliskan surat untukmu sekarang, dengan kata-kata yang seadanya; kata-kata yang tersisa. Menjawab suratmu kemarin:

” Aku baik-baik saja. Lalu bagaimana kabarmu?”

Advertisements

Puisi Terbaik Versi Pak Mulyadi

Kau mungkin berpikir bahwa sulit membuatku bersedih. Ingatmu, saat aku kehilangan dompetku aku malah berdoa supaya uang didalamnya dipergunakan untuk kebaikan dan sesaat yang lalu saat aku kehilangan sepeda motorku, lagi-lagi dengan nada suara yang tenang aku merelakannya. Kau benci kata pasrah yang keluar dari mulutku, katamu aku terlampau santai dengan kehidupan. Kau sering memarahiku jika aku terluka ataupun tersesat, kau begitu mengkhawatirkanku jika hal-hal buruk terjadi padaku secara beruntun.

Dan aku pun hanya tertawa, seringkali aku menyeringai bahwa tak selamanya aku akan sesial ini. Aku kerap membayangkan diriku pada saat-saat yang bahagia, pernah ada dalam ingatanku Pak Mulyadi, guru Bahasa Indonesia sewaktu SMP memuji puisiku yang berjudul “Ibu”. Katanya puisiku benar-benar bagus meski sarat dengan kesedihan. Tak apalah, setidaknya saat aku sedih aku mampu membuat sesuatu yang indah bukan?

Aku dan Kesedihan berteman baik dan ada keyakinan dalam diriku bahwa sahabatku itu tak akan membuatku bersedih. Seringkali kami berdua menghabiskan malam di teras rumah, berdiskusi tentang cuaca namun lebih banyak tentang kehidupan. Suatu saat nanti berjanjilah padaku, kau akan menemui Kesedihan, ia gemar sekali bercerita tentang teman-temannya yang ia jumpai sebelum mengenalku. Mengenal Kesedihan tak akan membuatmu putus asa, ia akan mengenalkanmu pada temannya yang lain bernama Harapan.

Aku tak mengenal Harapan sebaik Kesedihan, kadang ia ada namun seringkali ia pergi. Ada perasaan aneh dalam diriku saat Harapan itu muncul, saat ia mulai berbicara sorot matanya yang teduh seolah mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja, keyakinan yang tiba-tiba saja muncul bahwa apapun keapesanku hari ini aku akan bahagia. Kau tersenyum dan bertanya padaku “Bagaimana jika aku tak ada, apakah kau bersedia sekali ini saja bersedih untukku?”

Aku terdiam. Aku pernah merasakan ribuan kehilangan, kehilangan kaos kaki, pulpen, lipstik, novel kesayangan dan buku-buku, tapi aku belum pernah kehilanganmu. Pernah sekali waktu itu kau meninggalkanku untuk sementara waktu, kehilangan yang paripurna dalam hidupku. Kehilangan yang membuatku berpikir bahwa tak ada sedih yang paling sedih selain kehilanganmu. Sejak saat itu aku berusaha memunculkanmu dalam puisi-puisiku, puisi terbaik versi Pak Mulyadi, puisi tentangmu.(*)

 

Future

bampw-black-and-white-bus-girl-sad-Favim.com-403582

I vaguely remembered talking to you once about the future- something that we both can’t touch. I can sense the bitterness covered our little room where I can see the city starred by lights. Probably, this is our very first fight after we’ve been together for two years. I have no idea why these things up and I was just jaded with the games at the drop of a hat.

We are sitting against the clock. I can hear you breathe when you’re trying to catch my watery eyes. Your heavy voice reminds me about a man who had left a mother and his daughter. You stuttered with your guilt and said “I am leaving.” You left a hundred questions to ask but this is only the future that you can offer. (*)

Tanpa Kacamata

vision-hack-see-clearly-without-your-glasses-contacts.w1456

Entah..

Aku hanya tak sanggup berpikir saat ini

Semua tertinggal; kacamataku-hasratku-arahku

Tiap hal nampak samar, hanya ada bulatan-bulatan cahaya disekelilingku, perpaduan warnanya begitu indah dalam gelap; warnanya warna berani katamu, seperti konstelasi bintang yang paling sering kau banggakan. Tapi maaf, hanya saja tanpa kacamata konstelasi bintangmu itu seperti tak berbentuk dan membingungkan. Lalu kau hanya tertawa dan berhenti sejenak, menatapku lalu berseloroh “Tanpa kacamata, akulah bola mata”. Senyumku mengembang.

Kemudian aku melayangkan pandanganku pada tiap sudut jalanan Sudirman. Benar katamu, kota ini begitu gaduh dan sudah seharusnya aku bersamamu mendekap kesunyian. Sunyimu menulikan, merumahkan perasaan riuh yang kupendam. Tetiba kau menyodorkan pena yang kau beli semalam, kau memintaku menuliskan “Aku, namamu dan persimpangan..”

Pada persimpangan aku menuliskan ikrar, akan kujumpai sunyimu pada jam malam yang sama. Karena kau gaduh yang teduh, dan aku, akan beristirahat sejenak di pundakmu, menatap jalanan yang runyam dan buram.

***

Remember Me

“Kenapa kau memandangku seperti itu?”

“Aku ingin mengingatmu..” ungkapmu singkat.

Ini kali pertama aku memberanikan diri memandang balik mata seorang pria. Mata birunya lekat menatapku, menelanjangi setiap lekuk wajah dan kekikukanku. Kau membiarkanku berjalan sendirian dengan semua terkaan, kemudian menit-menit ini berubah menjadi siksaan. Diam menjelaskan pengertian, tentang hal yang barangkali tak perlu kita katakan.

Lalu kau membuka percakapan dengan nada menyeringai tertawa, mengusikku dengan ingatan bahwa sejatinya kita mempunyai sejumlah kenangan yang bisa kita ceritakan. Dengan semangat kita saling menimpali, seolah dua hari sama seperti dua dekade kita hidup bersama. Kau bercerita tentang pak polisi baik hati itu, tentang luka di kakiku dan lagu Russia yang kau nyanyikan saat menggendongku. Bukankah ini menyenangkan? serumu, Ya, tentu saja! . Tawamu membuncah.

Beberapa jam yang lalu, aku sesumbar berkata : aku tak ingin terlelap. Lalu kau berpura-pura untuk mengiyakan, mengajakku berjalan dari satu taman hingga ke lain taman. Kau menjelaskan lugas tentang sudut-sudut kota ini, tentang bahasa mereka yang sedikit banyak tak ku mengerti. Kemudian kau merendahkan suaramu ke wajahku, air mukamu berubah menjadi getir, kita mengerti tak ada yang tahu apa yang kelak terjadi di esok hari.

Mungkinkah kita bertemu lagi?

Kau mendaratkan ciuman manis di keningku, memelukku erat. Tak ada kata yang tertinggal di kota asing ini, kita memilih untuk menyimpannya, sekadar untuk disesalkan atau dilupakan.

Aku pergi. Aku harus pergi sekarang.

“Better by far you should forget and smile

Than that you should remember and be sad”

(Remember – Christina Rossetti)

Dua Puluh Dua

Menginjak usia dua puluh dua, semakin aku membawa banyak tanya. Seperti, hidup itu kumpulan norma yang tertata. Jangan begini, jangan begitu. Semuanya serba berdinding, aku mulai terkotak dan merasa sesak.

Lalu pada biasanya, aku berhenti untuk mengamati. Menyelami hati tentang keinginan yang tak benar-benar kuinginkan, tentang ketakutan yang diam-diam kurencanakan. Aku menemui diriku pada tiap-tiap tempat, keramaian yang semakin mengasingkan dan kegaduhan yang semakin menggelisahkan. Musik berputar jelas, semua tertawa dan membual, apakah aku bahagia?

Aku hanya tertawa.

__

Di waktu yang lain, pada suara angin aku mengalah, diam dan bersetubuh dengan kesepian. Setidaknya langit masih bewarna cerah meski dihadapanku hanya ada tepian pantai tanpa arah. Pada koperku, kukemas kehampaan, bukankah semua perjalanan ini yang dulu hendak kusombongkan?

Langit tak ada beda, tak disini maupun di Jakarta. Keheningannya pun sama.

Aku berusaha menikmatinya.

__

Pada sekeliling kotak norma aku berlarian, hendak meninggalkan atau bertahan. Jika tawa tak sebenarnya bahagia, lalu apakah bahagia itu? Dua puluh dua dan tanya.

Aku masih mencari jawabnya.

Jatuh Cinta

Aku merasa begitu bodoh saat aku jatuh cinta. Begitu jugakah kamu? Ah, tapi dalam hal apapun kau selalu pintar mengontrol emosimu. Nada bicaramu tetap saja datar, tidak seriang intonasi suaraku. Seringkali aku lupa teori bahwa pria hidup dengan logika. Lalu apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini? Meletup-letup setiap kali bertemu denganmu.

Sebenarnya ini hanya pertemuan biasa, lalu aku sibuk membenahi garis bibirku karena goresan lipstick yang tidak pernah rapi, aku selalu khawatir tentang rambut, baju, sepatu,dan semuanya. Aku ingin terlihat cantik di depanmu, cukup hanya didepanmu saja. Tidakkah kau tau hal itu terkadang membuatku lelah? Bagaimana jika aku seorang berantakan yang ceroboh, masihkah ada pertemuan yang lain untukku?. Kembali aku bertanya-tanya, pertanyaan yang berputar di dalam batinku dan aku tak pernah menemukan jawabannya darimu.

Bahkan jatuh suka denganmu membuatku menjadi seorang aktris amatiran. Seringkali aku berpura-pura tertawa mendengar trend leluconmu dengan teman-temanmu. Aku hanya ingin tertawa bersamamu. Terkadang obrolan kita mulai membosankan, hening dengan gadget kita masing-masing atau terkadang obrolan kita seperti sebuah drama monolog, panjang lebar kau bercerita tanpa bertanya bagaimana denganku. Sepertinya, aku bukanlah hal menarik untuk kau tau.

Aku mulai mengeluhkan perasaan ini. Kenapa aku jatuh cinta padamu? Disaat aku tak mampu menjadi diriku saat bersamamu. Atau mungkin saja aku bisa menjadi gadis impianmu yang suka memakai rok dan berhenti berbicara bola. Aku mulai berbicara dengan semua topik yang kau pilihkan, hanya saja kau terlihat seperti ingin mendengar apa yang kau dengar. Jenak aku berpikir, begitukah cinta?

Aku memang begitu bodoh ketika aku jatuh cinta. Sangat buta untuk merasa bahwa kau sebenarnya memang tak pernah ada rasa. Lalu bagaimana dengan hari-hari kerasku kemarin? Lupakan saja..mungkin dengan cara ini si bodoh belajar bahwa jatuh cinta tak sebahagia yang dia kira.