Berpergian

Kau tak akan pernah siap untuk berpergian saat kau masih membawa sejumlah kebiasaan lama dari masa lalu : menghirup udara yang kau kenali, melihatnya terpejam dengan lengan yang masih melingkar dipundakmu atau menyimak sebuah lagu kesedihan dengan ribuan kemungkinan. Kemudian ingatan menguap, masa lalu seperti embun yang diam-diam hilang saat siang. Kau sedang bersiap untuk pergi, namun kau lihat ia pulas menantimu kembali.

Kau kunci rapat sudut-sudut matamu, membekali dirimu dengan banyak doa dan harapan. Pada jalan depan rumahnya, dadamu bergetar, seperti seorang yang tak ingin berpergian- kau redam sedu sedan. Cuaca sedang bagus diluar, ia masih ingin tidur dan kau sudah harus berjalan. Pukul tujuh pagi saat matahari hendak tinggi, kau sedang mengadakan perpisahan dengan sebuah bayangan.

 

Jakarta, 2018

Advertisements

Pekerja

Ia yang katanya hidup tapi tak benar hidup,

yang katanya punya impian tapi bertahan

demi upah harian.

Keluhnya sekujur tubuh nyeri,

tiap malam ia dipukuli mimpi.

Kapan hidup punya jalan yang pasti

selain dari menanti?

 

Tiap pagi, ia berjumpa pada bis kota,

toko-toko, pusat keramaian dan

perkantoran.

Tak ada yang hilang dari matanya:

cita, doa dan ketabahan

Bilamana ia bisa menjadi tubuh yang setia

bagi takdir seorang pekerja?

 

Jakarta, 2018

Banyak Ingin

Orang-orang yang berpergian ingin pulang, mereka yang berdiam ingin sebuah perjalanan;

Orang yang bekerja ingin pekerjaan yang lebih baik, mereka yang tak punya pekerjaan ingin sebuah penghasilan;

Siapapun dengan usia tua ingin kembali muda, yang muda ingin kaya di hari tua;

Ada yang ingin sendiri saat bersama, bersama saat sendiri;

Ingin hidup tanpa kekhawatiran, bahagia tanpa ketakutan;

Ingin sehat, ingin makan kenyang ditanggal tua;

Ingin ini, ingin itu dan semoga para ingin tak cuma jadi ingin yang berlalu

bersama angin.

Bis Kota (Sehabis Kerja)

Semua terasa tenggelam. Aku pada kantukku dan mereka pada perasaan gusar. Bis kota memang selalu berjalan lamban, menunggu pada tiap perhentian, menjemput satu per satu keletihan.

Setiap hari aku seperti mengulang mimpi. Berjalan menyusuri Sudirman, menyusup kembali dalam keramaian. Malam seperti rentetan doa yang panjang, doa ingin cepat pulang- doa agar pagi tak cepat datang (*)

Sehabis Petang

Semua terasa begitu singkat:

kita, usia dan percakapan

kau katakan sesuatu yang tak bisa kuingat;

bersedih untuk sesuatu yang tak bisa kucatat

 

Sehabis petang kau menjadi pengantar duka;

katamu “kesedihan sudah ada jadwalnya”

kau minta bahagia beranjak dari tidurnya;

mengemasi lalu memulangkannya

 

Seperti seorang asing diantara lampu-lampu kota;

Kita berdiri mendekap duka

yang sama.

 

 

Jakarta, 2017

Sebelum Dilupakan

Kaukah itu?

Yang menelan subuhku;

membunuh kantukku

yang mengeja letih;

mengoyak perih

yang bernyanyi teramat pagi;

mengelu-elukan sepi

yang mengagumi banyak senja;

mengundi keindahan mereka

yang terkadang menjadi puisi

tersisip lalu pergi

“Jangan lupakan aku” pintamu

Kaukah itu?

Yang pernah menjadi babak ingatan;

sebelum benar-benar

dilupakan.

 

Jakarta, 2017

Tak Kembali

Pagi yang kosong- cerah yang gulita; dingin perlahan

menyelimuti luka

Daun tak pernah mengutuki angin karna tlah

memisahkannya dari dahan, namun tiap malam

kau serapahi ingatan

Rinduku penuh dan pada pagi selalu

terhampar jalan yang panjang

Aku buih napas yang tak akan kembali pada ragamu;

yang pernah menghidupkanmu dan

bernapas di dalammu

Aku senja yang kau tinggalkan, fajar yang kau ragukan

yang pernah ada diantara

pagi pucatmu.

 

Jakarta, April 2017