Sehabis Petang

Semua terasa begitu singkat:

kita, usia dan percakapan

kau katakan sesuatu yang tak bisa kuingat;

bersedih untuk sesuatu yang tak bisa kucatat

 

Sehabis petang kau menjadi pengantar duka;

katamu “kesedihan sudah ada jadwalnya”

kau minta bahagia beranjak dari tidurnya;

mengemasi lalu memulangkannya

 

Seperti seorang asing diantara lampu-lampu kota;

Kita berdiri mendekap duka

yang sama.

 

 

Jakarta, 2017

Advertisements

Sebelum Dilupakan

Kaukah itu?

Yang menelan subuhku;

membunuh kantukku

yang mengeja letih;

mengoyak perih

yang bernyanyi teramat pagi;

mengelu-elukan sepi

yang mengagumi banyak senja;

mengundi keindahan mereka

yang terkadang menjadi puisi

tersisip lalu pergi

“Jangan lupakan aku” pintamu

Kaukah itu?

Yang pernah menjadi babak ingatan;

sebelum benar-benar

dilupakan.

 

Jakarta, 2017

Puisi Terbaik Versi Pak Mulyadi

Kau mungkin berpikir bahwa sulit membuatku bersedih. Ingatmu, saat aku kehilangan dompetku aku malah berdoa supaya uang didalamnya dipergunakan untuk kebaikan dan sesaat yang lalu saat aku kehilangan sepeda motorku, lagi-lagi dengan nada suara yang tenang aku merelakannya. Kau benci kata pasrah yang keluar dari mulutku, katamu aku terlampau santai dengan kehidupan. Kau sering memarahiku jika aku terluka ataupun tersesat, kau begitu mengkhawatirkanku jika hal-hal buruk terjadi padaku secara beruntun.

Dan aku pun hanya tertawa, seringkali aku menyeringai bahwa tak selamanya aku akan sesial ini. Aku kerap membayangkan diriku pada saat-saat yang bahagia, pernah ada dalam ingatanku Pak Mulyadi, guru Bahasa Indonesia sewaktu SMP memuji puisiku yang berjudul “Ibu”. Katanya puisiku benar-benar bagus meski sarat dengan kesedihan. Tak apalah, setidaknya saat aku sedih aku mampu membuat sesuatu yang indah bukan?

Aku dan Kesedihan berteman baik dan ada keyakinan dalam diriku bahwa sahabatku itu tak akan membuatku bersedih. Seringkali kami berdua menghabiskan malam di teras rumah, berdiskusi tentang cuaca namun lebih banyak tentang kehidupan. Suatu saat nanti berjanjilah padaku, kau akan menemui Kesedihan, ia gemar sekali bercerita tentang teman-temannya yang ia jumpai sebelum mengenalku. Mengenal Kesedihan tak akan membuatmu putus asa, ia akan mengenalkanmu pada temannya yang lain bernama Harapan.

Aku tak mengenal Harapan sebaik Kesedihan, kadang ia ada namun seringkali ia pergi. Ada perasaan aneh dalam diriku saat Harapan itu muncul, saat ia mulai berbicara sorot matanya yang teduh seolah mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja, keyakinan yang tiba-tiba saja muncul bahwa apapun keapesanku hari ini aku akan bahagia. Kau tersenyum dan bertanya padaku “Bagaimana jika aku tak ada, apakah kau bersedia sekali ini saja bersedih untukku?”

Aku terdiam. Aku pernah merasakan ribuan kehilangan, kehilangan kaos kaki, pulpen, lipstik, novel kesayangan dan buku-buku, tapi aku belum pernah kehilanganmu. Pernah sekali waktu itu kau meninggalkanku untuk sementara waktu, kehilangan yang paripurna dalam hidupku. Kehilangan yang membuatku berpikir bahwa tak ada sedih yang paling sedih selain kehilanganmu. Sejak saat itu aku berusaha memunculkanmu dalam puisi-puisiku, puisi terbaik versi Pak Mulyadi, puisi tentangmu.(*)

 

Tak Kembali

Pagi yang kosong- cerah yang gulita; dingin perlahan

menyelimuti luka

Daun tak pernah mengutuki angin karna tlah

memisahkannya dari dahan, namun tiap malam

kau serapahi ingatan

Rinduku penuh dan pada pagi selalu

terhampar jalan yang panjang

Aku buih napas yang tak akan kembali pada ragamu;

yang pernah menghidupkanmu dan

bernapas di dalammu

Aku senja yang kau tinggalkan, fajar yang kau ragukan

yang pernah ada diantara

pagi pucatmu.

 

Jakarta, April 2017

Auf anderen Wegen

 

Wir müssen atmen, wieder wachsen, bis die alten Scharlen platzen
Und wo wir uns selbst begegnen, fallen wir mitten ins Leben
Wir gehen auf anderen Wegen

***
“Sudah semestinya kita melanjutkan hidup kita kembali sampai kita menjadi tua

dan ketika kita menemukan diri kita nanti, kita pun akan menemukan arti kehidupan itu sesungguhnya;
-disaat itulah kita sedang menjalani hidup kita masing-masing”

 

Kata Kita

189834_308175465961661_1419334191_n

(Fy)

Diantara kita entah siapa yang lebih dulu mencintai kata

Aku selalu suka kata yang bekerja di kepalamu

Sementara engkau selalu salah menerjemahkan kata kerjaku

Berandailah..aku kata..dan engkau pun kata

Pada kalimat mana kita akan dipertemukan

Dalam kalimat itu, akankah kita bersebelahan?

Atau kita dipisahkan kata lainnya

Lalu pura-pura saling tak memiliki makna

 

(Ly)

Aku menjejalkan kata pada rentetan kalimatmu

Katamu berhimpitan dan aku

terdengar sumbang

Kita pernah berteka-teki

Seperti apakah kata yang gagal?

“Kata yang tak bisa bersisian” ucapmu “yang

berirama timpang”

Lalu aku menelan kembali kata-kataku

Berikrar diri bahwa tak akan ada lagi kata yang tertinggal

Karna seperti kata, barangkali aku tlah gagal. (*)

 

 

Appreciate Those Around You

img_5338

***

“Sometimes life plays a joke. It let us dive to the deepest oceans and hike to the highest mountains only to find what beauty is. While, there is beauty in all around us and all we have to do is just trying to see and appreciate its presence..”

Once my friend said “Every day is just same routine but different shit” and those words ringing in my head. Frankly said, I’m terribly bored with my routine and nothing excites me. In the meantime, I used to rest my back against the chair before start to work while starring blankly out the window. And that’s when thoughts begin to stir, all the while being gradually reminded of how unhappy I am.

I take a deep breath and continue my life. Then, one year has passed and this is my second year here. I was thinking maybe there are cool things outside waiting for me and I am not supposed to be here. My mind flew away, I imagined myself break this routine. Yet it doesn’t help tho, I begin to complain and I could feel my intense negative thoughts gradually tune out my gratitude.

I took a week off to breath the fresh air. I wish the magical thing happens and I will be happy afterwards but in fact, there’s no such magical things. I decided to visit park near the city and spend my day to read a book that I just bought. Heat of the sun almost burn my skin but I’m still continuing read it. It’s been awhile I didn’t look closely at my surrounding: the sun- the air- family and friends. I was so messed up lately and I can’t see that they are the simple things which keep me alive. Eventually, I just realized that happiness isn’t always about great things outside, it’s something around me that I have to appreciate its presence everyday (*)