Tak Ada Jawaban

Aku tergagap. Nafasku mulai tak beraturan, kutemui sumbatan pada tiap hembusan. Kembali, parodi tawamu tersetel dalam ruang ingatan. Berdegup, detakdetak kerinduan.Senyap,pengap. Aku tertahan, pada pokoknya aku bertanya. Mengapa aku mencintaimu sedang aku tak tahu;  mengapa hanya kamu seorang sedang aku tak tahu; mengapa dan mengapa sedang aku tak tahu. Kau tahu? Tak ada jawaban. Kita kembali pada jam-jam kesibukan. Dimana cinta tak lagi dibisikkan.

Advertisements

Tiga Manusia

Aku enggan mengucap kata “kamu”;
kini bagiku “mereka” dan bukan satu

Aku menjamakan hatiku untuk merasa;
membagi sekat-sekat rindu yang berbeda

Aku menyukai tawamu;
Aku mengagumi perangaimu;
Aku luluh dengan perhatianmu;

Dan aku, menyukai mereka – tiga manusia.

Abu-Abu

Aku mulai menyukai warna abu-abu.

Aku, kamu dan abu-abu menyerupai satu hal yang ku maknai sebagai “keraguan”.

Maaf, aku tak bisa memberi warna untukmu, sejatinya kamu samar, abu-abu lalu memudar. Hanya saja kamu sempat menjadi pekat, hitam lalu gelap . Aku takut terluka dengan kejelasan warna, sekali lagi maaf,  aku hanya bisa menjadikanmu pria abu-abuku.

Serupa mendung sore ini, kutatap kamu begitu nyata hai abu-abu.

Aku merindukanmu.

Infatuation #1

Seharusnya hari Kamis itu tidak pernah ada. Malam itu,terlalu  banyak hal yang kusesalkan menjelma menjadi sebuah kesalahan. Semestinya tidak pernah terdengar kata kita, Aku dan kamu yang sejatinya tak pernah menahu. Kita dan sekelumit pikiran kita masing-masing, oh maaf, tidak pernah ada lagi kata kita. Aku dan sekelumit pikiranku yang dangkal justru membawamu terlalu dalam dan dalam, pergi dan jauh dari sebuah esensi “keakraban”. Tapi toh aku bahagia, hingga keegoisan ini terus menjalar…

***

Kalau saja waktu bisa diputar kembali, alih-alih aku akan menyimpan rapat mulutku dalam ransel hitam pekatku. Karna sepotong obrolan awal telah kukenali sebagai kerinduan.

Seharusnya kamu tahu dari awal peringatan itu “Jangan berkawan denganku!”, yang sebenarnya ingin kutuliskan lebar dan besar pada kaca, tempat dimana kamu lemparkan pandangan acuh di setiap dering telepon malam itu.

Aku memperhatikanmu. Ya, samar-samar. Aku hanya tidak tahu bagaimana mengatasi kebosananku dalam perjalanan. Sesekali ponselku bergetar, tak pernah ada deringan, satu pun tidak untuk menanyakan keberadaanku, kontras denganmu.

 Apapun itu. Setiap gerik waktu terasa singkat, seolah malam itu adalah takdir. Aku tak bisa mengubah perangai ramahku, aku tersenyum – selalu tersenyum, dan aku tak mengerti ternyata senyum ini awal kamu mulai membuka diri.

***

“Hari apa ini?”

“Senin.”

Seharusnya hari Kamis dan Senin tidak pernah ada!

Konstelasi rasaku memuncak malam ini, aku menyadari bagaimana mungkin ada suatu rasa yang begitu kental menyeruak di dadaku. Semua ini karena kamu. Bukan kamu yang aku salahkan, tapi malam itu..Kamis itu.

 Aku dan kamu terpaku dalam pengakuan yang samar. Sebenarnya saat itu kejujuran tak diperlukan. “Cukup aku dan kamu..” pikirku. Tetapi semesta terlalu lancang jika menyembunyikan keberadaannya, dia, cinta yang enggan kau dustakan.

“Aku berhenti sampai disini..”

Aku merasa risih dengan kondisi yang canggung ini. Aku enggan menjadi renggang antara kamu dan dirinya. Memang seharusnya aku pergi, bayangan hitam yang tak pernah diinginkan!

***

KEHILANGAN, mutlak yang aku rasakan. Senyap hari setelah semuanya berakhir.

Lalu sebenarnya apa yang aku rasakan? Cintakah?, ah, terlalu cetek..

“When I’m with you, I lose sight of reality – I dare say. I feel like reality only consists of you and I.”

Tapi aku tidak bisa berkata selantang hati ini. Biarlah aku dan kamu menyesapi momen-momen tak tersebutkan ini, perasaan tak bernama ini.” (-ForgottenSupernova-)

Sepotong Masa Lalu

Kulitnya legam;

Hatinya kelam

Segelap malam;

Asanya tertangguhkan oleh keadaan

Anak perempuan yang lugu

Bersenandung rindu bersama langkah kaki sepatu

Deritanya disimpan rapat didada

Dijumpainya nanti sepulang sekolah;

di kamar rumah bersama tangis yang membuncah..

Sebulan lalu langkahnya gontai..

Sekolah ini masih sama..

ada atau tanpa ada dia

Lonceng ini masih berbunyi

Tanpa memperdulikan lara dihati

Sebulan lalu dia bersembunyi di atap rumah

Anak perempuan dengan tatapan sendu

Terlalu takut dengan cemooh..

Sekolah tak memberinya ruang tuk mengadu

Kini , dia seperti keledai bodoh..

***

 

“Ibu peri tolong datang kemari;

Jadilah pengganti ibuku..

Aku akan memelukmu dengan rindu

Menciummu tanpa ragu..”

Tangisnya tiap malam sambil memeluk baju ibu

Anak perempuan 8 tahun

Belum mengenal kata cinta

Namun sudah terbawa duka ;

perpisahan orang tua

Dalam rekam pikiran kanak-kanaknya

Dunia dewasa hanya kejam semata

Hari itu,

Tanggal dua puluh bulan januari tahun  dua ribu

Tak pernah ada ikrar kepadanya

Bahwa ibu akan menemaninya hingga dewasa

Hari itu,

Terlalu pagi untuk sebuah kesedihan

Ibu menjanjikannya sebuah kata “masa depan”

Hanya keindahan kata dalam angan

***

Disusunnya rindu rapi dalam kalbu

Ditetaskannya tawa ,

Getir menjuntai tiba-tiba

Raga seperti retak beribu rasa

Sendiri tak menjelaskan sebuah arti sepi

Kemana kau ibu?

Rindu selalu mencari disela-sela memori

Anak perempuan delapan tahun

Hal apa yang mampu ia dustakan?

Langkahnya samar gemetar

Diam..terdiam..bungkam,,menahan lapar

Sejumput garam dan sepiring nasi

Untuk bilik lambung ini

Sekulah air mata dan samudra rindu

Untuk hati yang selalu merindumu, Ibu

###