Berpergian

Kau tak akan pernah siap untuk berpergian saat kau masih membawa sejumlah kebiasaan lama dari masa lalu : menghirup udara yang kau kenali, melihatnya terpejam dengan lengan yang masih melingkar dipundakmu atau menyimak sebuah lagu kesedihan dengan ribuan kemungkinan. Kemudian ingatan menguap, masa lalu seperti embun yang diam-diam hilang saat siang. Kau sedang bersiap untuk pergi, namun kau lihat ia pulas menantimu kembali.

Kau kunci rapat sudut-sudut matamu, membekali dirimu dengan banyak doa dan harapan. Pada jalan depan rumahnya, dadamu bergetar, seperti seorang yang tak ingin berpergian- kau redam sedu sedan. Cuaca sedang bagus diluar, ia masih ingin tidur dan kau sudah harus berjalan. Pukul tujuh pagi saat matahari hendak tinggi, kau sedang mengadakan perpisahan dengan sebuah bayangan.

 

Jakarta, 2018

Advertisements

Terbenam

abram

***

(Fy)

Setelah gagal dengan gelas kelima ini
Ingin kubenamkan saja kepalaku dalam seember kopi
Aku tidak ingin tidur
Sebab terlalu takut mengulang mimpi

Seisi kamar sudah terlanjur penuh dengan nyanyian tentangmu
Sedangkan aku hanya bisa menatap langit dari jendela
Barangkali,
Jika kaca jendela ini kupecahkan
Dendang sialan ini bisa melambung ke udara
Mungkin terbawa angin sampai pintu depan rumahmu

Kau dengar ketukan mereka?
Ketukan perih yg memohon iba
Aku ingin melupakanmu
Tapi kamu begitu lekat
Semacam tahi lalat yg menumpuk di bilik jantungku

Kunyalakan lampu dan berkaca
Memeriksa sisa sisa jejakmu yang tertinggal pada wajahku
Kemudian kembali merasa kalah
Aku kembali ke tempat tidur
Tapi tidak untuk tidur

Diluar matahari terbit
Aku terbenam

***

October, 2016