Saat Kau Tidur Pulas

Jika aku diam seringkali kau kira aku sedang sakit gigi, atau saat aku tidur lebih dulu dan tak sempat menyambutmu; kau kemudian hanya sibuk dengan telepon genggammu tanpa menanyai hariku. Hari ini dipasar aku sulit menemukan ikan dori pesananmu hingga kemudian aku kembali ke rumah dan merasa gagal, juga kakiku sekarang mulai payah berjalan karena nyeri yang terlampau sering dan benar, membersihkan dan menunggui rumah adalah kegiatan yang sangat membosankan. Namun yang membuatku bahagia adalah saat aku terbangun tengah malam dan menyelinap sebentar ke kamarmu sambil melihatmu tertidur pulas.

Aku semakin tua dan rupanya kau semakin sibuk. Semoga saat kita ada waktu untuk ngobrol tak melulu soal perdebatan, kenapa begini kenapa begitu. Aku sedang berusaha merelakan diriku untuk diam akhir-akhir ini. Kau kerap menyebut kata “privasi” saat kau enggan bercerita tentang sesuatu. Maaf, aku hanya terbiasa menanyakan hari-harimu sama seperti saat kau masuk tahun ajaran baru disekolah dulu. Aku tahu dunia dewasa itu rumit dan kau harus kuat. Untuk menjadikanmu dewasa, aku rela menjadi tua dan untuk membuatmu bahagia, aku satu-satunya orang yang rela menjadi apa saja.

“Tidur yang nyenyak, Anakku” bisikku sambil membenahi selimutmu.

Advertisements

Sehabis Petang

Semua terasa begitu singkat:

kita, usia dan percakapan

kau katakan sesuatu yang tak bisa kuingat;

bersedih untuk sesuatu yang tak bisa kucatat

 

Sehabis petang kau menjadi pengantar duka;

katamu “kesedihan sudah ada jadwalnya”

kau minta bahagia beranjak dari tidurnya;

mengemasi lalu memulangkannya

 

Seperti seorang asing diantara lampu-lampu kota;

Kita berdiri mendekap duka

yang sama.

 

 

Jakarta, 2017