Berpergian

Kau tak akan pernah siap untuk berpergian saat kau masih membawa sejumlah kebiasaan lama dari masa lalu : menghirup udara yang kau kenali, melihatnya terpejam dengan lengan yang masih melingkar dipundakmu atau menyimak sebuah lagu kesedihan dengan ribuan kemungkinan. Kemudian ingatan menguap, masa lalu seperti embun yang diam-diam hilang saat siang. Kau sedang bersiap untuk pergi, namun kau lihat ia pulas menantimu kembali.

Kau kunci rapat sudut-sudut matamu, membekali dirimu dengan banyak doa dan harapan. Pada jalan depan rumahnya, dadamu bergetar, seperti seorang yang tak ingin berpergian- kau redam sedu sedan. Cuaca sedang bagus diluar, ia masih ingin tidur dan kau sudah harus berjalan. Pukul tujuh pagi saat matahari hendak tinggi, kau sedang mengadakan perpisahan dengan sebuah bayangan.

 

Jakarta, 2018

Advertisements

Sudah Sampaikah Suratku?

o-WOMAN-WRITING-LETTER-facebook

Suratku yang lalu tak sampai, bahkan belum selesai kutulis tapi sudah hilang. Puisi-puisiku hanya bergeming di dinding seolah hanya aku dan Tuhan yang tahu. Sudah setahun aku mencoba mengeja kata s-a-y-a-n-g namun masih saja lidahku kelu, aku mencoba mengeja kata yang lain – Sunshine, Baby maupun Darling tapi tetap saja aku ingin belajar bagaimana mengeja s-a-y-a-n-g yang baik.

Aku pun sudah lupa bagaimana cara mengucap rindu. Rindu seperti sepi yang menempel pada kaca-kaca jendela rumahmu, yang menanti kepulanganmu namun tetap saja kehilanganmu. Rindu seperti ampas kopi yang mengental dicangkirku, yang sengaja aku tiriskan hingga malam. Dalam percakapan kita pun, rindu duduk pada kursi nomor dua sambil menunggu gilirannya bicara yang tak pernah tiba. Pelan-pelan ia terabaikan, perlahan rindu terlupakan.

Aku sedang menuliskan surat untukmu sekarang, dengan kata-kata yang seadanya; kata-kata yang tersisa. Menjawab suratmu kemarin:

” Aku baik-baik saja. Lalu bagaimana kabarmu?”

Sehabis Petang

Semua terasa begitu singkat:

kita, usia dan percakapan

kau katakan sesuatu yang tak bisa kuingat;

bersedih untuk sesuatu yang tak bisa kucatat

 

Sehabis petang kau menjadi pengantar duka;

katamu “kesedihan sudah ada jadwalnya”

kau minta bahagia beranjak dari tidurnya;

mengemasi lalu memulangkannya

 

Seperti seorang asing diantara lampu-lampu kota;

Kita berdiri mendekap duka

yang sama.

 

 

Jakarta, 2017

Tak Kembali

Pagi yang kosong- cerah yang gulita; dingin perlahan

menyelimuti luka

Daun tak pernah mengutuki angin karna tlah

memisahkannya dari dahan, namun tiap malam

kau serapahi ingatan

Rinduku penuh dan pada pagi selalu

terhampar jalan yang panjang

Aku buih napas yang tak akan kembali pada ragamu;

yang pernah menghidupkanmu dan

bernapas di dalammu

Aku senja yang kau tinggalkan, fajar yang kau ragukan

yang pernah ada diantara

pagi pucatmu.

 

Jakarta, April 2017

Pada Labirin

8ff69125679f6f11f5dbc52e5ffa3597

Lalu begini, aku tak hendak membuatmu bingung sepagi ini. Hanya saja kita seperti bermain dalam sebuah labirin, berputar-putar pada arah yang mengarah pada ketiadaan. Seandainya kau tahu maksudku, dinding labirin ini begitu tinggi untuk kupanjat seorang diri dan bersamamu setapak demi setapak adalah pilihan yang kupunya. Aku menikmati setiap detik bersamamu, setiap langkah yang kita ambil bersama, dan terkadang meskipun salah, kita akan selalu tertawa. Puluhan putaran sudah, hingga kita mulai beretorika tentang perasaan yang kita sangsikan dan perbedaan yang tak pernah kita rencanakan.

Kemudian kita memilih berjalan berlawanan arah, kau ke kanan dan aku ke kiri. Labirin ini membuatku gila! Perjalanan yang harusnya tak ku keluhkan, sebuah pelajaran tentang mencari atau ditemukan. Entah siapa yang terlebih dahulu bertemu, kau pada mataku atau aku pada matamu. “Labirin ini terlalu sempit kurasa” kataku untuk mengatasi kecanggungan,  “Atau langkah kita yang terlalu lebar hingga kita kembali dipertemukan?” terdengar suara teduhmu mengawali percakapan. Mungkin saja, langkah kaki ini terlalu sukar kita sangkal, semua kembali pada irama yang semesta ajarkan : hidup bukan hanya tentang sebuah tujuan, tapi juga sebuah perjalanan (*)

Aku Sedang Sibuk

5c9d4562135df10f425dc77cf4d3f3cb

Akhir-akhir ini aku sedang sibuk. Ah! tak hanya aku, semua orang pun sibuk. Yang sedang bekerja sibuk dengan tumpukan pekerjaan, yang pengangguran pun sibuk mencari pekerjaan atau seperti Ibuku, Ibu rumah tangga yang mengaku selalu sibuk membenahi tiap sudut rumah sambil mengurus sendiri anjing dan kucing karena anak-anaknya jarang dirumah. Lalu aku? Aku sibuk memandangi tumpukan buku-buku kuliah yang harus aku baca dan kemudian sibuk memikirkan bagaimana aku bisa menyelesaikannya, namun tak pernah mulai membacanya.

Aku tak pernah malas membaca, sungguh,  aku pun berjanji akan sering menulis namun beberapa bulan terakhir aku menjadi malas. Kemudian lembaran skripsiku hanya menjadi barang usang yang aku letakkan sembarangan. Kau tahu punya tekad saja tak cukup, aku harus punya waktu dan terlebih lagi aku harus punya otak!  Aku rasa aku tak punya otak sekarang ini atau mungkin saja aku punya tapi otakku sedang ngadat sehingga ia tak sanggup lagi bekerja.

Jarum jam menunjukan pukul tujuh. “Ini masih pagi!” Aku kembali menarik selimutku dan berbaring sedikit lebih lama. Kau kenal aku bukan? Aku sangat menyukai pagi dan aroma wangi teh hijau yang kuseduh tiap pagi, tapi untuk hari ini aku hanya ingin melewatkannya. Aku berjanji  akan bekerja di kantor seperlunya, aku berjanji akan membatasi mengecek email dan aku sudah membuat kesepakatan dengan pikiranku untuk tidak memikirkan apapun selain membaca buku-bukuku. Oh, kau mungkin berharap aku memikirkanmu, tapi maaf seperti kataku tadi aku sedang sibuk.

Pada buku pertama yang aku baca, kujumpai huruf-huruf namamu tiba-tiba tersusun secara acak. Dengan terburu-buru aku membalik lembarnya ke halaman lain; hanya saja aku tak mau pikiran tentangmu memunculkan kesibukan yang baru.  Kau sendiri pernah berujar kesibukan pekerjaan membuatmu tak sempat untuk sekedar meneleponku. Tentu, kita tak akan saling membebani bukan? Barangkali memang benar, sibuk menjadi sebuah alasan untuk kita saling mengabaikan. (*)

Kata Kita

189834_308175465961661_1419334191_n

(Fy)

Diantara kita entah siapa yang lebih dulu mencintai kata

Aku selalu suka kata yang bekerja di kepalamu

Sementara engkau selalu salah menerjemahkan kata kerjaku

Berandailah..aku kata..dan engkau pun kata

Pada kalimat mana kita akan dipertemukan

Dalam kalimat itu, akankah kita bersebelahan?

Atau kita dipisahkan kata lainnya

Lalu pura-pura saling tak memiliki makna

 

(Ly)

Aku menjejalkan kata pada rentetan kalimatmu

Katamu berhimpitan dan aku

terdengar sumbang

Kita pernah berteka-teki

Seperti apakah kata yang gagal?

“Kata yang tak bisa bersisian” ucapmu “yang

berirama timpang”

Lalu aku menelan kembali kata-kataku

Berikrar diri bahwa tak akan ada lagi kata yang tertinggal

Karna seperti kata, barangkali aku tlah gagal. (*)